Februari 11, 2026

PantauNewss.com

Aktual &Terpercaya

Febrian Amanda: “Diplomasi Sunyi Indonesia–Malaysia”

PANTAUNEWSS.COM – Di tengah ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, hubungan antarnegara tidak lagi cukup dirawat melalui pertemuan resmi dan pernyataan formal. Stabilitas kawasan justru kerap ditopang oleh diplomasi sunyi, dialog yang bertumpu pada kepercayaan, kedekatan sejarah, dan kepekaan budaya; bekerja jauh dari sorotan publik, namun berdampak jangka panjang.

Silaturahim persahabatan antara Jusuf Kalla dan Yang di-Pertuan Agong Malaysia, Sultan Ibrahim ibni Almarhum Sultan Iskandar, di Istana Negara Malaysia, mencerminkan praktik diplomasi semacam itu. Ini bukan pertemuan resmi kenegaraan, melainkan perjumpaan persahabatan dua tokoh Bugis yang dipertautkan oleh sejarah Nusantara dan nilai kepemimpinan serumpun.

Saya bersyukur dapat berperan menjembatani pertemuan persahabatan ini, sebuah ikhtiar sederhana yang dilandasi keyakinan bahwa dialog non-formal memiliki nilai strategis tersendiri. Tanpa agenda politik formal, pertemuan berlangsung dalam suasana tenang, hangat, dan penuh adab, membuka ruang percakapan mengenai sejarah, dinamika kawasan, serta pentingnya menjaga hubungan Indonesia–Malaysia secara dewasa dan saling menghormati.

Nilai-nilai Bugis seperti kejujuran, keteguhan prinsip, dan penghormatan terhadap persaudaraan menjadi fondasi etis dari silaturahim ini. Nilai-nilai tersebut relevan di tengah dunia yang kian terfragmentasi, ketika kepercayaan menjadi mata uang paling berharga dalam hubungan internasional.

Merawat diplomasi sunyi semacam ini adalah bagian dari ikhtiar bersama untuk memperkuat posisi Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara serumpun, menuju kawasan yang aman, makmur, dan diridhai Allah SWT, “baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr.”

Penghargaan dan terima kasih setinggi-tingginya disampaikan kepada Yang di-Pertuan Agong atas perkenan Baginda menerima kami dengan penuh kehangatan di Istana Negara. Sikap Baginda yang tenang, terbuka, dan berakar kuat pada tradisi mencerminkan kebijaksanaan kepemimpinan yang meneduhkan. (*)

Ditulis Oleh: H. Febrian Amanda, S.HI

Penulis adalah Pengamat Politik dan Penggiat Strategi Komunikasi Indonesia, Ketua Umum Pertama Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia dan Founder TRUST Indonesia Consulting

 

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *